Fokuslah pada Pilhan Hidup

Pagi ini agenda saya keliling2 di bekasi, tepatnya daerah tembelang untuk menyelesaikan pekerjaan Deal lahan. Seharian hingga jam 13 lalu kembali ke bandara Halim untuk penerbangan kembali ke solo jam 15.

Sampai di Solo sudah siap agenda meeting dengan tamu luar kota dilanjutkan aktivitas mempelajari calon-calon rintisan bisnis yang masuk dari Santri pondok Prenuer hingga larut. Setiap hari kita dihadapkan pada pilihan2 aktivitas dan agenda2.

Dalam kehidupan ini kita tidak bisa menginginkan semuanya menjadi bagus, Ada yang bisa bagus di sisi sana, dan bisa kurang bagus di sisi sini. Selalu ada yang dikorbankan. Hidup selalu memberikan kepada kita pilihan2.

Ketika ada 2 pilihan A dan B, kita memilih A maka biaya yang kita harus tanggung adalah kehilangan B Ketika saya kuliah dulu, ini disebut Oportunity Cost. Atau biaya peluang Biaya yang harus dibayar karena kita memilih sebuah pilihan. Selalu ada biaya.

Belajar dari Pilihan Hidup seorang Olahragawan 

Misalnya begini, Saya bisa membayangkan, jika suatu saat kelak anda berkesempatan mengajak seorang Michael jordan seorang ahli basket untuk bermain badminton, bisa jadi anda yang akan jadi pemenang. atau andaikata dapat mengajak Tiger wood main basket, belum tentu dia akan menang.

Ini karena Jordan dan Wood adalah ahli di bidangnya,mereka terkenal,hebat dan kaya karena menjadi spesialis di bidangnya, meskipun di bidang lain mereka belum tentu bisa hebat. Saya sering diberitahu bahwa binaragawan, yang badannya kekar yang dibentuk oleh body building yang hebat, biasanya kurang pintar sekolahnya.

Tentu saja stereotype ini bisa salah bisa benar. Saya tidak mengatakan bahwa mereka bodoh, tapi mungkin kurang menghabiskan waktunya untuk mengasah otak, karena kita semua punya waktu yang terbatas. Mereka setiap hari berolah raga untuk membentuk tubuhnya. Tidak ada waktu untuk pendidikannya.

Saya kenal olahragawan hebat yang seharinya 14 jam berolah raga, lalu kapan membaca buku dan belajar? Orang yang jagoan ngebut, hebat olahraga ini, hebat olahraga itu, jarang sukses dalam pendidikannya.

Karena mereka tidak meluangkan waktunya untuk lebih banyak berkonsentrasi ke pendidikannya. 

Tulisan pagi ini, saya ingin mengajak kita menyadari bahwa hidup adalah kompromi. Kompromi untuk menentukan pilihan - dari pilihan yang ada - yang akan lebih banyak kita perhatikan anda tidak akan menjadi seseorang yang hebat dalam semua hal,maka anda harus membuat keputusan keistimewaan apa yang anda ingin hebat didalamnya.

Mengalokasikan lebih banyak sumber daya ke sini. Sehingga pilihan lainnya secara otomatis terabaikan.

Contoh: kalau kita menentukan pekerjaan dipentingkan untuk lebih cepat, maka kita terlalu mengharap adanya pilihan pekerjaan yang hasilnya akurat.

Kalau kita melakukan lebih banyak pekerjaan, maka kualitasnya tidak akan sebaik kalau dikerjakan sedikit.

Dalam kehidupan sehari-hari dan dalam pekerjaan,kita harus memilih aktivitas-aktivitas yang menguntungkan kita.

Kita harus melakukan memilih. Jadi selalu ada hal yang harus dirugikan. Ada hal yang harus dikompromikan. Tidak bisa kita mau semuanya.

Prioritas jadi kunci, apa yang kita dahulukan, dan apa yang kita korbankan?

Suatu ketika ada sebuah tayangan oriental sirkus yang saya saksikan di televisi, para pemain sirkus melompat dari tali satu ke tali yang lain pada ketinggian yang menegangkan, inilah keahlian dan spesialisasi mereka.

Dengan kemampuan inilah mereka dihargai orang dan dianggap hebat dalam pekerjaannya, dan belum tentu hebat dalam pekerjaan yang lain. Tapi belum tentu hebat dalam pekerjaan yang lain.

Maka dalam kehidupan ini kita hanya akan mendapatkan penghargaan dari orang lain manakala ada keahlian khusus yang kita miliki,dan keahlian ini lebih dari yang dimiliki orang lain atau orang pada umumnya.

Kalau kita bisa mengerti hal ini maka kita bisa memilih - kita punya hak untuk memilih - mana yang harus diubah dalam kebiasaan kita supaya kita bisa lebih sukses dalam kehidupan kita.

Anda harus sadar bahwa kita semua punya hak untuk memilih, dan menentukan pilihan kita.keliru jika anda masih menginginkan untuk menjadi hebat dalam semua pekerjaan.

Pilihlah, keahlian dan pekerjaan apa yang akan menjadi fokus anda, jadilah yang terbaik dalam sebuah pekerjaan, milikilah keahlian dalam pekerjaan itu, dan anda akan dihargai karena keahlian itu.
Jadilah spesialis dalam pekerjaan, spesialis itu dalam pekerjaan dan keahlian, tapi dalam keilmuan harus generalis. Ulama dulu, menguasai banyak ilmu, hadits, militer, matematika, quran, tapi spesialisasinya adalah dokter.

Misalnya Ibnu Sina. Para ahli mengatakan untuk menjadi ahli membutuhkan 20.000 jam kerja khusus di suatu bidang. Apa spesialis keahlian anda? Yang membuat anda menjadi rujukan dalam bidang itu?
Selamat memilih keahlian, Jadilah hebat Didalamnya, jangan setengah2 karena yang biasa biasa saja tidak terpaksa.

Oleh: Fitra Jaya Saleh dari grup Telegram FJS